Sinode
GKPB
RENUNGAN
Sinode GKPB
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 2747624 / 4425362 | Fax: (0361) 4424862 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
Ayat Mas Harian
20 Jun 2018
RENUNGAN HARIAN

Nats 1: Mazmur 102:18
TUHAN sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka.

Nats 2: Lukas 18:13-14
Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah.

Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 1:12-26; Ibrani 9:1-10

Lelucon yang Serius

Saudara yang rajin menjelajahi dunia maya pasti tak asing dengan istilah “meme”. Meme merupakan rangkaian beberapa kata unik yang membentuk sebuah lelucon atau guyonan. Umumnya sebuah meme terdiri dari kalimat yang sangat pendek namun mengena. Terkadang beberapa meme juga memanfaatkan gambar atau foto tertentu (yang tentunya juga lucu) guna memperjelas kesan dan pesan
yang ingin disampaikannya. Karena gayanya yang begitu khas, simpel, dan langsung pada intinya, banyak orang di era milenial ini yang kemudian memakai meme untuk menyampaikan kritik sosial, terutama kritik atas isu-isu yang viral dan hangat diperbincangkan publik. Meme adalah “lelucon yang serius”. Sekalipun bergaya lawakan, dalam sebuah meme sesungguhnya tersirat keprihatinan, kemarahan, dan kekecewaan yang begitu mendalam. Bahasa meme sangat dramatis dan mengandung ironi, yang tujuannya juga untuk mengekspos sebuah ironi yang terjadi dalam hidup sehari-hari.

Yesus sendiri juga kerapkali memberikan kecaman dan kritik atas ironi yang begitu viral pada masa itu melalui perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan-Nya. Saat itu para pemuka agama begitu memegahkan diri atas status sosial mereka yang seolah tanpa cacat cela. Dalam perumpamaan-Nya, Yesus pun menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat ironi untuk menggerakkan hati mereka
yang mendengarkannya. Ia menyampaikan bahwa Allah lebih membenarkan orang yang mau merendahkan diri di hadapan-Nya. Kesediaan si pemungut cukai untuk mengakui kelemahannya ternyata begitu dikenan Allah daripada keangkuhan seorang tokoh agama yang terhormat. Ironis bukan? Itulah sifat Allah yang dinampakkan Yesus melalui kritik dan perumpamaan-Nya. Dengan bahasa yang sederhana namun dramatis, Yesus menampilkan sosok Allah yang berkenan meninggikan mereka yang rendah dan merendahkan yang tinggi.

Saudaraku, sesungguhnya dalam Alkitab terdapat begitu banyak kritik atas kehidupan kita yang disampaikan dengan banyak cara. Semuanya begitu menggelitik dan seharusnya juga mampu menggugah hati kita untuk hidup dengan lebih rendah hati di hadapan-Nya. Allah tahu bahwa kita sesungguhnya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk alasan itulah Ia sampaikan kritik-Nya bagi kita.

Doa : Tuhan, aku rindu menjadi pribadi yang rendah hati. Ajarlah aku untuk tidak mengabaikan pesan-pesan dan kritik-Mu dalam Alkitab. Amin.
kamis, 15 May 2018 | Oleh: AW