Sinode
GKPB
RENUNGAN
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 2747624 / 4425362 | Fax: (0361) 4424862 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
Ayat Mas Harian
22 Apr 2019
(Yesaya 2: 2, 4)
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
RENUNGAN HARIAN

Nats 1: Mazmur 16: 11
Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Nats 2: Galatia 5: 22-23
Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Bacaan Alkitab: 2 Korintus 3: (9-11) 12-18; Roma 8: 18-25

Di Manakah Sukacita?

Di sebuah kota kecil ada sebuah klinik yang didirikan secara sederhana. Kamarnya tidak banyak, jumlah tenaga medisnya sangat terbatas, peralatan-peralatannya pun hanya seadanya. Namun demikian, jumlah pasien yang datang setiap harinya selalu membludak. Bahkan ada yang rela datang pagi-pagi buta dan berdesakdesakan demi mendapatkan nomor antrean lebih awal.

Pada suatu hari, ada seorang pasien yang mengunjungi klinik dan merasa prihatin dengan begitu banyaknya orang yang memerlukan pertolongan medis di kota kecil itu. Ia pun berdiskusi dengan dokter yang merawatnya. Ia bertanya: “Dok, kenapa di kota sekecil ini orang sakit seolah tidak pernah ada habisnya, bahkan jumlahnya tidak pernah menyusut?” Dokter itu menjawab: “Anda pernah sakit gigi?
Ketika Anda sakit gigi, apakah Anda sempat memikirkan orang lain?” Si pasien menggelengkan kepalanya. Dokter melanjutkan: “Demikianlah keadaan kita sekarang ini. Dunia kini menjadi tempat yang begitu dingin. Tidak ada lagi kehangatan cinta kasih yang terpancar bagi orang-orang di sekeliling kita. Di mana-mana orang hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Hati menjadi hambar dan hidup tidak lagi diliputi sukacita. Jadi, jangan heran kalau jumlah orang sakit tidak pernah berkurang.”

Saudaraku, kisah di atas mengingatkan kita bahwa sukacita merupakan salah satu aspek terpenting dari kehidupan ini. Kendatipun sukacita kini seolah menjadi barang langka, namun bukan berarti sukacita itu sudah lenyap sama sekali. Banyak orang tidak merasakan sukacita karena mencarinya di tempat yang salah. Ada yang mencarinya di tempat yang penuh gemerlap dunia, ada pula yang mencarinya lewat kekayaan, kemolekan, dan keanggunan. Intinya, banyak orang menganggap sukacita itu akan mereka peroleh dengan memuaskan dirinya sendiri. Kedua petikan nats hari ini mengajak kita untuk kembali menemukan sukacita pada sumbernya yang tepat, yakni Tuhan sendiri. Karena itu waspadalah terhadap sukacita yang imitasi! Tidak mungkin kita menemukan buah semangka di pohon mangga, demikianlah nikmat dan sukacita yang sejati tidak mungkin kita temukan di luar Tuhan. Yakinlah bahwa di dalam Tuhan, hidup kita pasti menjadi lebih berkualitas.

Doa : Ya Tuhan, limpahkanlah sukacita sejati dalam hidupku. Dan tuntunlah aku untuk menjadi pembawa nyala sukacita itu bagi sesamaku. Amin.
rabu, 08 Feb 2019 | Oleh: AW