Sinode
GKPB
RENUNGAN
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 2747624 / 4425362 | Fax: (0361) 4424862 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
RENUNGAN HARIAN

Nats 1: Daniel 9: 9
Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan (kemurahan hati) dan keampunan.

Nats 2: Lukas 6: 36
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Bacaan Alkitab: Yohanes 1: 43-51; Roma 8: 26-30

Allah Itu Murah Hati

Kepahitan menjadi sebuah wabah yang menjangkiti hampir setiap aspek kehidupan manusia, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, dan hidup bermasyarakat. Istilah “senggol-bacok” yang sempat populer beberapa tahun lalu kini perlahan kembali merebak. Itulah sebabnya, mengobarkan api permusuhan di masa kini sangatlah mudah. Kalau diibaratkan, hati manusia seperti dilumuri bensin yang hanya perlu
diberi sedikit percikan api. Ketika manusia sudah dikuasai roh permusuhan, maka tidak ada lagi kasih, pengampunan, dan kemurahan hati. Bagaimana dengan di Gereja saudara? Masihkah persekutuan di tempat saudara dibayangi oleh kepahitan? Semoga saja tidak.

Kedua petikan nats hari ini sama-sama memberi kesaksian bahwa Allah kita adalah Pribadi yang bermurah hati. Kemurahan Allah dinampakkan dengan begitu jelas dalam perjalanan sejarah umat manusia sebagaimana disaksikan dalam Alkitab. Salah satu karya terbesar yang lahir dari kemurahan Allah tercermin melalui kedatangan Kristus ke dunia ini, sebagai bentuk inisiatif Allah untuk melepaskan umat manusia dari belenggu dosa. Padahal jika mau jujur, sesungguhnya manusia sama sekali tidak ada artinya di hadapan Allah. Manusia hidup atau mati, tidak ada untung dan ruginya sama sekali bagi Allah. Tetapi mengapa Allah berkenan menyelamatkan kita? Di sinilah kemurahan hati-Nya mengambil peranan yang teramat penting.

Saudaraku, ketika kita tahu bahwa Allah kita itu adalah Allah yang bermurah hati, masihkah kita menyimpan amarah, dendam, dan kepahitan bagi sesama kita? Tidakkah kitapun turut tergerak untuk bermurah hati bagi sesama? Melalui kemurahan hati yang ditunjukkan oleh Allah, kita belajar bahwa kemurahan hati itu tidaklah semata-mata kita ukur dari untung-rugi. Justru ketika kita mengukur kemurahan hati dengan prinsip untung-rugi, maka sesungguhnya itu bukanlah kemurahan, melainkan sikap murahan! Inilah yang kemudian akan berkembang menjadi embrio kepahitan. Kemurahan hati
tidak pernah menuntut balas jasa, selalu sedia mengampuni walaupun diciderai dengan begitu hebatnya, bahkan juga mau memberi dari kekurangan. Kiranya Allah memampukan kita dalam membangun komitmen untuk menjadi pribadi-pribadi yang murah hati, sama seperti Dia yang adalah murah hati.

Doa : Tuhan, mulai detik ini aku mau belajar untuk menjadi pribadi yang murah hati. Kiranya Roh Kudus memampukanku dalam mewujudkannya. Amin.
kamis, 11 Feb 2019 | Oleh: AW