Sinode
GKPB
RENUNGAN
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 2747624 / 4425362 | Fax: (0361) 4424862 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
Ayat Mas Harian
22 Apr 2019
(Yesaya 2: 2, 4)
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
RENUNGAN HARIAN

Nats 1: Yesaya 63: 16
Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.

Nats 2: Matius 6: 9
Yesua berkata: Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.

Bacaan Alkitab: Yohanes 3: 31-36; Roma 8: 31-39

Status Istimewa

Menilai status sosial seseorang itu gampang-gampang susah. Ada terlalu banyak ukuran yang bisa kita pakai. Mulai dari pakaian yang ia kenakan, gaya hidupnya, postur badannya, raut mukanya, atau bahkan jumlah aset yang dimilikinya. Orang dengan status sosial yang tinggi umumnya disegani masyarakat, apalagi jika ia adalah seorang yang dermawan. Hal sebaliknya berlaku bagi mereka yang berstatus sosial lebih rendah. Akan tetapi, orang dengan status sosial yang rendah sekalipun, apabila ia memiliki karakter yang baik dan suka menolong, maka ia pun bisa menjadi sosok yang disegani orang lain. Sedangkan orang yang status sosialnya tinggi juga belum tentu dihormati masyarakat apabila ia berperilaku jahat dan curang.

Tuhan, Allah kita, memiliki status istimewa yang tak dapat disamai dengan status-status apapun yang melekat pada diri manusia. Nats pertama yang kita baca hari ini memberi kesaksian bahwa Ia adalah Bapa sekaligus Penebus umat-Nya, sedangkan nats kedua merupakan penggalan Doa Bapa Kami yang memproklamirkan kekudusan nama Bapa di sorga. Kata “kudus” mengandung arti “khusus/ dikhususkan”, atau dapat juga disejajarkan dengan istilah “spesial” atau “istimewa”. Bapa kita di sorga adalah satu-satunya Pribadi yang menyandang status istimewa yang tidak ada bandingnya. Nama-Nya kudus dan tiada yang setara dengan-Nya. Karena itu tepatlah jika salah satu dari Sepuluh Hukum mengingatkan umat Tuhan untuk tidak menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Status istimewa yang disandang Allah bukanlah sekedar status, melainkan telah terbukti dan teruji sebagaimana kesaksian Alkitab sendiri atas karya-karya-Nya yang ajaib dan sungguh heran itu. Keistimewaan itu mengandung arti bahwa hanya Dialah satu-satunya yang harus kita hormati dan banggakan. Tindakan membanggakan Tuhan tercermin melalui sikap hidup yang tidak menduakan Tuhan, yakni tidak berpaut pada allah lain yang menjauhkan diri kita dari Tuhan. Saudaraku, walaupun status kita tidaklah seberapa di mata orang lain, keistimewaan Tuhan sesungguhnya adalah keistimewaan kita juga. Seberapa banggakah saudara memiliki Allah seperti Dia?

Doa : Engkaulah Pribadi yang teristimewa di dalam hidupku, ya Tuhan. Ingatkanlah aku untuk selalu hidup berpaut pada-Mu saja. Amin.
kamis, 11 Feb 2019 | Oleh: AW