Sinode
GKPB
RENUNGAN
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 2747624 / 4425362 | Fax: (0361) 4424862 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
Ayat Mas Harian
20 May 2019
(Ulangan 10: 21)
Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu.
RENUNGAN HARIAN

Nats 1: Yesaya 2: 2, 4
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Nats 2: Yohanes 20: 21
Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.

Bacaan Alkitab: Lukas 24: 13-35; 1 Korintus 15: 50-58; Matius 28: 11-20

Hidup Damai, Mungkinkah?

Sebagian mungkin pernah mendengar kisah The Christmas Truce of 1914. Ini adalah peristiwa gencatan senjata pada Natal 1914 antara tentara Jerman dan tentara Inggris yang saling berperang pada Perang Dunia I. Gencatan senjata secara tidak resmi terjadi saat itu dan perang berhenti ketika lagu-lagu Natal dinyanyikan tentara Jerman dan disambut oleh tentara Inggris. Dua kubu yang saling berperang pada siang harinya, kini menyanyi bersama. Keesokan harinya, pada hari Natal dalam suasana takut dan penuh kecurigaan satu sama lain mereka memberanikan diri keluar dari parit-parit persembunyian sambil mengangkat tangan dan mengucapkan selamat Natal. Suasana hening karena takut dan curiga diganti dengan sukacita karena mereka saling menyapa dan merayakan Natal bersama. Itulah sekilas kisah tentang Genjatan Senjata pada Natal 1914 antara dua kubu yang saling berperang di garis terdepan. Peristiwa yang terjadi bukan karena perintah resmi, tetapi kerinduan para
tentara untuk merayakan Natal dalam suasana dama dan sukacita.

Hidup dalam kedamaian, siapa yang tidak menginginkannya? Setiap kita tentu rindu untuk hidup dalam damai. Namun di dalam iman Kristen, dosa telah merusak hubungan yang baik antara manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Dengan kemampuannya sendiri manusia tidak mungkin dapat hidup dalam damai. Karena itu, Allah melalui peristiwa iman Paskah telah melakukan karya pendamaian bagi manusia. Karya ini merupakan perwujudan janji Allah yang mengatakan bahwa bangsa tidak akan mengangkat pedang dan tidak lagi berperang.

Namun kalau melihat kenyataan hidup akhir-akhir ini, peperangan dimana-mana, konflik antar golongan atau pribadi marak terjadi, bahkan di dalam keluarga sekalipun. Kini pertanyaannya, apakah mungkin kedamaian tercipta di dunia? Inilah tanggungjawab iman orang percaya. Bahwa Allah telah memulai karya pendamaian itu. Kini, setiap kita yang hidup di dalam Yesus diutus untuk menjadi pewarta damai sejahtera bagi sesama. Allah telah memulainya dalam diri kita, kini mari melanjutkan tugas mewartakan damai. Seperti orang yang menggebu-gebu hatinya ketika berjumpa Yesus dalam perjalanan ke Emaus demikianlah hendaknya kita menggebu-gebu untuk mewartakan damai setelah berjumpa Yesus yang hidup itu.Mari mulai mewartakan damai dari lingkungan keluarga, gereja, masyarakat atau di manapun Tuhan menempatkan kita. Selamat menjadi pewarta damai dalam kata dan kerja.

Doa : Kiranya Tuhan memampukan kami menjalani tugas perutusan menjadi pembawa damai sejahteramu. Amin
Jumat, 16 Apr 2019 | Oleh: JVS