Menjawab Zaman, Menghidupi Panggilan: Transformasi Radikal Perguruan Tinggi Kristen untuk Masa Depan
Catatan Jurnalistik dari Kongres BKPTKI 2026 di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta
Tempat: Kampus UKDW, Yogyakarta | Tanggal: 16–18 Juli 2026
YOGYAKARTA — Di tengah gelombang disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pergeseran demografi nasional, serta tantangan keberlanjutan institusional, Badan Kerjasama Pendidikan Tinggi Kristen di Indonesia (BKPTKI) menggelar Kongres 2026 di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, pada 16–18 Juli 2026. Mengusung tema sentral "Menjawab Zaman, Menghidupi Panggilan: Transformasi Perguruan Tinggi Kristen untuk Masa Depan", helatan akbar empat tahunan ini menghimpun para rektor, pengurus yayasan, pimpinan universitas, serta pimpinan pelayanan kampus (chaplaincy) dari puluhan Perguruan Tinggi Kristen (PTK) se-Indonesia guna merumuskan arah strategis dan imperatif transformasi pendidikan tinggi Kristen. Selama tiga hari penyelenggaraan, para pimpinan perguruan tinggi Kristen membedah isu-isu krusial melalui sesi pemaparan pakar, dialog interaktif, hingga musyawarah perumusan kepengurusan baru.
1. Relevansi dan Keberlanjutan: Menguji Fondasi dan Identitas Keagamaan
Narasumber: Handi Irawan Djuwadi, MBA., M.Com. (Ketua Umum MPK Indonesia & Dewan Penasihat BKPTKI)
Rangkaian persidangan ilmiah diawali oleh paparan komprehensif dari Handi Irawan Djuwadi dalam Sesi 1 ("Relevansi dan Keberlanjutan Perguruan Tinggi Kristen di Tengah Perubahan Global") dan Sesi 2 ("Menghidupi Panggilan Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia"). Mengawali presentasinya, Handi melontarkan pertanyaan reflektif mendasar: "Haruskah Perguruan Tinggi Kristen tetap mempertahankan asosiasi keagamaan/Kristennya?"
Berdasarkan data kependudukan dan riset Bilangan Research Center (BRC), populasi umat Kristen di Indonesia secara kuantitatif mencapai sekitar 20,81 juta jiwa pada tahun 2024. Namun, persentase proporsional (market share) cenderung melandai, turun dari 7,60% (2019) menjadi 7,40% (2024). Potensi lulusan SMA/SMK Kristen di seluruh Indonesia tercatat sekitar 200.000 siswa per tahun. Di sisi lain, studi mengenai spiritualitas generasi muda menunjukkan bahwa generasi muda Kristen saat ini makin sekuler dengan peningkatan orientasi humanis serta fanatisme keagamaan yang melemah. Riset DPT 2025 terhadap 4.092 mahasiswa membuktikan bahwa aspek keagamaan bukan lagi variabel utama calon mahasiswa dalam memilih kampus. Tiga faktor dominan utama adalah:
1. Peluang Kerja & Prospek Karier
2. Besaran Biaya / UKT yang Terjangkau
3. Reputasi & Akreditasi Institusi
Sebanyak 61% calon mahasiswa menempatkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai opsi utama, dan 43,96% bersedia menunda kuliah (gap year) selama satu tahun demi masuk PTN. Handi menegaskan bahwa jika PTK hanya mengandalkan "label Kristen" tanpa dibarengi keunggulan mutu, daya saing, dan efisiensi biaya, maka asosiasi tersebut tidak lagi efektif menarik minat calon mahasiswa. Menyoroti lanskap PTS nasional, Handi memaparkan bahwa 81,8% PTS berada pada tingkat mutu menengah dan 13,74% mutu rendah, sedangkan yang mencapai predikat unggul hanya 4,46%. Ditambah tekanan krisis penurunan jumlah dosen PTS (-8,3% pada 2023/2024) serta minimnya proporsi Guru Besar (hanya ~1,4%), PTK harus mengambil langkah rasional. Handi menawarkan strategi transformasi berbasis nilai utama MPK (Compassion, Collaboration, Creativity) dan penguatan 5 Pilar BKPTKI (Gereja, MPK, BKPTKI, Pelaku Bisnis, Yayasan, dan Pemerintah). Rekomendasinya meliputi skema mentoring dan adopsi antara kampus kuat/besar terhadap kampus kecil, konsorsium platform digital Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) terintegrasi, serta penataan branding berbasis points-of-difference.
2. Praktik Baik Transformasi Institusional dan Ekosistem Inovasi
Narasumber: Prof. Dr. Ir. Yohannes Kurniawan, S.Kom., S.E., MMSI. (Vice Rector for Student Affairs Binus University)
Pada Sesi 3 ("Transformasi Pendidikan Tinggi untuk Daya Saing dan Relevansi: Berbagi Praktik Baik"), Prof. Yohannes Kurniawan membedah peta jalan perubahan dari Teaching University menuju Learning University, hingga bermuara pada Innovation University. Transformasi pendidikan tinggi dijelaskannya bukan sekadar digitalisasi sarana, melainkan perubahan paradigma menyeluruh. Prof. Yohannes memaparkan Lima Pilar Transformasi yang diterapkan di Binus University:
1. Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa (Student-Centered Learning) berbasis Outcome-Based Education (OBE).
2. Transformasi Digital dan Data-Driven University (pemanfaatan learning analytics, otomatisasi admission, hingga student retention).
3. Kolaborasi Industri Kemitraan Nyata (co-teaching, co-supervision, dosen tamu, dan capstone project).
4. Riset dan Inovasi yang Berdampak Sosial (hilirisasi, HKI, startup, dan rekomendasi kebijakan).
5. Keterlibatan Global (Global Engagement).
Poin krusial yang diangkat adalah kurikulum adaptif (Agile Curriculum) dan Program Enrichment "3+1" (312). Mahasiswa diberikan ruang memilih jalur pengalaman nyata selama 1–2 tahun melalui Internship (magang industri), Research, Community Development, Entrepreneurship, atau Study Abroad. Prof. Yohannes juga menggarisbawahi pentingnya pengembangan kapasitas dosen (Faculty Development) dalam menguasai Responsible AI agar tetap mampu mengarahkan mahasiswa di era digital.
3. Disrupsi Masa Depan: AI, Redesain Pekerjaan, dan Peluang Demografi
Narasumber Sesi 4: Dr. Ir. Antonius Tanan, M.B.A., M.Sc., M.A. (Komisaris PT Metrodata Electronics Tbk) & Deddi Tedjakumara, Ph.D. (CEO Askedian Consulting)
Dalam Sesi 4, dua pakar mengurai anatomi tantangan teknologis serta operasional PTK.
A. Dr. Ir. Antonius Tanan: Isu, Tren, dan Tiga Peluang Strategis
Dr. Antonius Tanan menyoroti tiga isu utama: tingginya pengangguran kaum terdidik (sarjana/diploma melampaui 1 juta orang), regulasi global Gainful Employment 2026 (penilaian kelayakan PT berdasarkan pendapatan riil alumni setelah 4 tahun bekerja), serta skenario OECD mengenai dekonstruksi sistem sekolah formal. Guna merespons kondisi tersebut, Dr. Antonius menawarkan 3 Peluang Strategis:
1. Pengembangan 12 Kluster Produk Perguruan Tinggi: Kombinasi moda (onsite, blended, full online) dengan jenis kredensial (formal degree, micro-credentials, nano-credentials / digital badges). CV masa depan tidak lagi berfokus "lulusan mana", tetapi "bisa melakukan apa".
2. Pemanfaatan AI untuk Redesain Pekerjaan: Menyesuaikan kurikulum dengan fenomena pergeseran peran manusia yang bekerja berdampingan dengan AI Agents.
3. Inovasi "Senior University" / Program MM "Karier Kedua": Menggarap peluang dari meningkatnya populasi lansia dan pensiunan (rata-rata 116 ribu pensiunan ASN/TNI/Polri baru per tahun). Program MM Karier Kedua menggunakan pendekatan andragogi dan apprenticeship guna mencetak profesional senior yang mampu membangun unit bisnis baru (Engine Two).
B. Deddi Tedjakumara, Ph.D.: Revitalisasi Daya Saing dan Future of Work
Deddi Tedjakumara membedah pentingnya menjaga Tiga Dimensi Keberlanjutan PTK: Institutional Sustainability (daya saing & adaptasi), Financial Sustainability (kemandirian finansial), dan Missional Sustainability (pembentukan karakter, identitas Kristen, dan panggilan hidup).
Deddi menjelaskan evolusi AI dari Generative AI menuju Agentic AI (autonomous task orchestration). Dalam konteks Future of Work, terjadi perubahan pada kerangka 5W:
- What work is done: Fokus pada problem-based learning, perspektif lintas disiplin, serta penguatan discernment (kemampuan membedakan batasan eksekusi AI dan tanggung jawab moral manusia).
- Who does the work: Kolaborasi manusia dan AI. Pendidikan harus mencegah distributed de-skilling (penurunan kemampuan berpikir kritis kolektif akibat ketergantungan pada AI).
- How work is organized: Pergeseran dari content-driven ke capability-driven (critical thinking, systems thinking, learning agility).
- Why work matters: Pendidikan berorientasi pada pencarian makna kerja dan panggilan hidup (calling and purpose). Deddi menyimpulkan bahwa peran dosen telah bergeser dari sekadar "sumber transfer pengetahuan" menjadi fasilitator, kurator, tour leader, dan agen sense-making.
4. Hasil FGD dan Rekomendasi Kelompok
Pada hari kedua (Jumat, 17 Juli 2026), kegiatan dilanjutkan dengan FGD Panelis yang menghadirkan tanggapan reflektif dari Rektor UKDW (Dr.-Ing. Wiyatiningsih), Rektor UK Petra (Prof. Dr. Rolly Intan), Rektor Universitas Dhyana Pura / Undhira (Prof. Dr. IGBR. Utama), dan Rektor Univ. HKBP Nommensen Medan (Dr. Richard A.M. Napitupulu).
Hasil FGD Paralel (Breakout Rooms) menyepakati beberapa poin penting:
- Kelompok Yayasan: Fleksibilitas alokasi anggaran untuk teknologi AI dan peningkatan mutu dosen.
- Kelompok Rektor: Pembentukan konsorsium riset bersama, kolaborasi penjaminan mutu, dan roadmap mentoring antar-PTK.
- Kelompok Wakil Rektor: Program aliansi peningkatan daya saing dan mobilitas mahasiswa.
- Kelompok Chaplaincy Forum: Penguatan pelayanan Campus Ministry berbasis Whole Person Education (WPE) yang relevan bagi Gen Z dan Alpha.
5. Puncak Acara: Pemilihan Pengurus Baru BKPTKI Periode 2026–2030
Memasuki Sesi Laporan Dewan Pengurus dan Sidang Pleno di Koinonia UKDW pada Jumat sore, agenda utama persidangan dilanjutkan dengan pemilihan kepengurusan baru BKPTKI untuk periode 2026–2030.
Melalui proses musyawarah mufakat yang hangat dan solider, Kongres secara resmi menetapkan jajaran Pengurus Baru BKPTKI Periode 2026–2030. Dalam keputusan tersebut, Rektor Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali, Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., resmi terpilih sebagai Wakil Ketua Pengurus BKPTKI Periode 2026–2030.
Terpilihnya Prof. IGBR. Utama seorang akademisi dan pimpinan universitas bereputasi asal Bali disambut antusias oleh para peserta kongres. Kehadiran beliau dalam jajaran pimpinan pusat BKPTKI dinilai menjadi angin segar yang memperkuat representasi wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Indonesia Timur. Beliau diharapkan mampu mendorong akselerasi kolaborasi antar-kampus anggota BKPTKI di seluruh kawasan nusantara.
Rangkaian kongres diakhiri dengan Ibadah Penutup dan Pengukuhan Pengurus Baru BKPTKI 2026–2030. Seluruh delegasi memanjatkan doa bersama agar jajaran pengurus baru diberi hikmat dan keteguhan dalam mengawal transformasi perguruan tinggi Kristen di Indonesia. Hari berikutnya diisi dengan kegiatan Local Tour Explore Yogyakarta (menuju Tumpeng Menoreh, Geblek Pari, dan Kampung Wisata Purbayan Kotagede) sebagai sarana keakraban antar-pimpinan perguruan tinggi sebelum kembali ke daerah masing-masing (IGBRU).
Senin, 27 Jul 2026 | Oleh: admin sinode