Politik Inkulturasi Iman: Genealogi Penggunaan Kosakata Lokal dalam Terjemahan Alkitab dan Tradisi Zending di Nusantara
Pendahuluan
“Ketika membaca Alkitab terjemahan Bahasa Bali, kerap kali muncul kesan yang agak janggal di telinga, baik karena pilihan terminologi maupun kosakata yang sudah selayaknya mendapat pembaruan agar lebih relevan dengan perkembangan zaman. Kesan senada juga dirasakan saat melantunkan lagu-lagu rohani Kristen dalam bahasa daerah tersebut, di mana alunan liriknya seringkali terdengar asing dan kaku, sehingga dikhawatirkan akan semakin sulit dipahami, dihayati, dan diwariskan kepada generasi masa kini yang hidup dalam lanskap budaya yang terus bergerak dinamis”.
Dinamika penamaan, pengalihbahasaan, dan perumusan konsep ketuhanan di Indonesia sering kali menyimpan lapisan sejarah yang sangat kompleks, melampaui batas-batas narasi teologis yang kerap dipahami secara linier oleh masyarakat awam [1]. Dalam lintasan sejarah penyebarannya, Agama Kristen dikenal konsisten tidak pernah membawa istilah-istilah keagamaan aslinya secara kaku atau memaksakan kosakata asing dari Timur Tengah maupun Barat ke dalam ruang hidup masyarakat lokal. Sebaliknya, kekristenan selalu beradaptasi, melebur, dan menyesuaikan diri dengan kosakata pribumi yang lebih dikenal serta melekat erat pada lokus kedatangannya [2].
Namun, proses adaptasi dan penggunaan kosakata pribumi ini tidak berjalan dalam ruang hampa yang steril dari benturan kepentingan sosio-kultural. Pemilihan istilah lokal untuk menerjemahkan konsep ketuhanan dan teologi Kristen justru sering kali memicu gesekan identitas di berbagai daerah. Di banyak tempat, muncul dinamika "saling klaim" atas kepemilikan istilah-istilah sakral tersebut, yang kemudian melahirkan perdebatan tajam mengenai siapa pihak yang paling berhak dan siapa yang dianggap tidak berhak menggunakan kosakata tertentu [1-2].
Di tengah bentangan lanskap sosio-religius Nusantara, penelusuran sejarah tekstulis membuka tabir bahwa penggunaan frasa-frasa sakral lokal seperti variasi penamaan ketuhanan yang kemudian hari diadopsi secara luas di Bali memiliki akar historis yang kuat dalam praktik zending Kristen Protestan masa lalu. Jauh sebelum istilah-istilah tersebut mengalami pelembagaan modern di ruang publik nasional, para misionaris dan penerjemah Alkitab telah lebih dulu memelopori penggunaan kosakata pribumi. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk kepentingan teknis penerjemahan, melainkan sebagai sebuah strategi teologis yang mendalam: menjembatani jurang antara transkrip wahyu ilahi yang universal dengan realitas kultural masyarakat lokal di Nusantara [3].
Jejak Historis-Tekstulis Zending Kristen dan Strategi Penerjemahan
Catatan sejarah-tekstulis membuktikan bahwa penggunaan variasi frasa ketuhanan bernuansa lokal bermula secara intensif dari koridor zending Kristen Protestan di Bali sejak penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Para misionaris Barat yang datang ke tanah Bali menyadari sepenuhnya bahwa penyampaian Injil tidak akan pernah efektif jika disampaikan dengan terminologi asing yang hampa makna bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, sebuah kerja kolaboratif yang sistematis dijalin antara teolog zending dengan para intelektual serta penerjemah lokal [4].
Tokoh-tokoh penting seperti pendeta dan zendeling R.H. de Vroom, yang bekerja sama erat dengan para pemuka serta penerjemah lokal terkemuka seperti Goesti Djilantik, memainkan peran perintis yang sangat krusial. Mereka secara sadar menolak memaksakan kata "Allah" secara mentah-mentah tanpa filter kultural, atau mempertahankan istilah-istilah asing yang asing di telinga masyarakat agraris dan maritim Bali. Sebagai gantinya, mereka melakukan penyelaman mendalam terhadap khazanah bahasa lokal untuk mencari padanan yang paling mendekati martabat ketuhanan. Kosakata seperti Sang Hyang dan Widhi yang telah lama hidup, dihormati, dan disakralkan dalam sistem kepercayaan masyarakat Bali dipilih dan dirangkai secara cermat [5].
Melalui tangan dingin para penerjemah ini, frasa-frasa tersebut mulai dicetak, didokumentasikan, dan disebarluaskan ke dalam literatur Kristen serta naskah-naskah terjemahan Alkitab bahasa Bali. Proses ini menjadi tonggak sejarah di mana teks-teks suci kekristenan mulai mengenakan "pakaian" bahasa lokal. Pemilihan kata ini dirancang secara sistematis agar pesan-pesan keselamatan, kasih, dan kedaulatan Tuhan dapat dipahami secara mendalam, utuh, dan relevan oleh struktur kesadaran psikologis masyarakat Bali saat itu [6].
Konsep Adaptasi, Kontekstualisasi, dan Inkulturasi Lintas-Tradisi
Fenomena penggunaan kosakata lokal dalam literatur Kristen mencerminkan manifestasi nyata dari konsep inkulturasi dan kontekstualisasi teologis. Inkulturasi bukanlah sekadar taktik manipulatif untuk menarik simpati massa, melainkan sebuah penghormatan ontologis terhadap benih-benih kebenaran (semina verbi) yang diyakini telah terlebih dahulu ditanamkan oleh Sang Pencipta di dalam setiap kebudayaan manusia [7].
Pada era kolonial, para penginjil Protestan menyadari bahwa iman Kristen harus berakar di bumi tempat ia bertumbuh. Dengan mengambil kosakata lokal yang telah lama disakralkan oleh masyarakat Bali seperti prefiks penghormatan Ida, penyebutan entitas tertinggi Sang Hyang, hingga kata Widhi yang merefleksikan hukum, keteraturan, dan kekuasaan mutlak para zendeling berupaya meruntuhkan tembok alienasi kultural. Langkah ini memastikan bahwa konsep teologi Abrahamik mengenai Tuhan Yang Maha Kuasa tidak tampil sebagai penjajah budaya yang mencabut akar identitas umatnya, melainkan hadir sebagai jawaban atas kerinduan spiritual yang telah lama bersemayam di dalam kearifan lokal Nusantara [8].
Strategi penerjemahan semacam ini membuktikan bahwa kekristenan memiliki kelenturan historis yang luar biasa. Alih-alih melakukan indoktrinasi yang hegemonik, zending Kristen memilih jalan dialog. Kosakata lokal yang sarat dengan nuansa kosmis dan transenden diadopsi, dimurnikan maknanya ke dalam kerangka monoteisme biblis, dan diabadikan dalam bentuk tulisan. Hal ini menunjukkan bahwa teologi Kristen tidak pernah anti terhadap kebudayaan; ia justru menjadikan kebudayaan sebagai wahana utama untuk mengekspresikan misteri keilahian kepada umat manusia di berbagai penjuru bumi [9-12].
Kesimpulan
Lahir, digunakannya, dan dilestarikannya frasa-frasa bernuansa lokal dalam tradisi tekstulis Kristen menegaskan bahwa pekabaran Injil di Indonesia tidak pernah hadir dalam ruang hampa sosial. Sebaliknya, misi kekristenan senantiasa berjalan berdampingan dengan proses dialektika yang akomodatif terhadap kekayaan kearifan lokal. Dari jejak-jejak awalnya dalam terjemahan Alkitab oleh zending Protestan, penggunaan kosakata pribumi ini menjadi bukti autentik bagaimana sebuah misi keagamaan global mampu merendahkan diri, merangkul bahasa ibu, dan menghormati kebudayaan setempat demi menyampaikan pesan kasih yang universal. Pada akhirnya, strategi inkulturasi ini berdiri tegak sebagai monumen sosiologis dan teologis yang merefleksikan kelenturan, kedekatan, serta daya hidup misi Kristen di bumi Nusantara lintas generasi. Agar tetap relevan, implementasi Konsep Adaptasi, Kontekstualisasi, dan Inkulturasi Lintas-Tradisi harus senantiasa dinamis dan mudah dipahami oleh kaum muda masa kini tanpa harus selalu membuka lembaran masa lalu yang kaku. Untuk mendukung hal tersebut, sumber-sumber bacaan dan literatur pendukung pun harus terus diperbarui secara dinamis, kekinian, serta dikemas dalam medium digital yang ramah generasi modern.
Disclaimer
Penulis bukanlah seorang ahli teologi maupun seorang sejarawan profesional. Naskah ini ditulis dari sudut pandang seorang penganut Kristen yang pernah mengalami perjalanan konversi keyakinan, serta lahir dari latar belakang multikultural dan lintas-tradisi: seorang Ibu bersuku Jawa yang berasal dari Boyolali, dan seorang Ayah bersuku Bali asal Nusa Penida, yaitu Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, M.A., seorang akademisi dan Dosen di Universitas Dhyana Pura. Refleksi ini murni merupakan catatan personal, pengamatan sosio-kultural, serta penelusuran historis-tekstulis atas dinamika iman dan kebudayaan di Nusantara.
Daftar Pustaka
1. Sinaga ML. Identitas Poskolonial" Gereja Suku" dalam Masyarakat Sipil; Studi tentang Jaulung Wismar Saragih dan Komunitas Kristen Simalungun. LKIS PELANGI AKSARA; 2004.
2. Helmi HB. DAKWAH LINTAS AGAMA DAN BUDAYA. PT. Revormasi Jangkar Philosophia; 2026 Aug 24.
3. Yefri Edowai ST, MM MT. Sejarah dan Penyebaran Gereja di Indonesia. wawasan Ilmu; 2025.
4. Guillot C. Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi Jawa. IRCiSoD; 2020 Dec 22.
5. Brotosudarmo TH. Injil Kerajaan Sang Ratu Adil: Kisah Hidup Dan Misi Penginjilan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung. Penerbit Andi; 2023 May 5.
6. Suparta I, Gede K. SPenggunaan Kata Roh Sang Hyang Pengardi Sebagai Terjemahan Kata Roh Kudus Dalam Alkitab Bahasa Bali. Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia. 2022;2(2):27-34.
7. Debataraja MR. Teologi Kristen di era disrupsi: Menjawab tantangan iman di tengah perubahan global. Ebed Ministry Indonesia; 2025 Nov 6.
8. Supradnyana IG. Penunggang Kuda Putih Itu Adalah Ida Sang Hyang Yesus Kristus, Sang Awatara: Perjumpaan Kristen Bali dengan Kitab Wahyu di Sulawesi Tengah. Indonesian Journal of Theology. 2015 Jul 30;3(1):61-76.
9. Badjie SD, Manalu A. Dialog Budaya Dan Teologi Menuju Pendidikan Kristen Yang Transformatif. HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. 2025 Oct 31;6(2):76-98.
10. Swellengrebel JL. IN MEMORIAM Dr. HENDRIK VAN DER VEEN: 21st JULY, 1888—19th OCTOBER, 1977. Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde. 1978 Jan 1(2/3de Afl):195-206.
11. Aritonang JS, Steenbrink KA, editors. A history of Christianity in Indonesia. Brill; 2008.
Schreiter RJ. Constructing local theologies. Orbis Books; 2015 Sep 15.
ditulis oleh :
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, M.A.
Dosen Tetap Universitas Dhyana Pura
Jumat, 11 Sep 2026 | Oleh: admin sinode