Sinode
GKPB
NEWS
Sinode GKPB
Gereja Kristen Protestan di Bali
Jl. Raya Kapal No 20, Kapal - Mengwi - Mangupura - Bali
Telp: (0361) 4422726 / 4425117 | Email: sinode.gkpb@gmail.com
Menguatkan Kolaborasi Riset Interdisipliner untuk Masa Depan Berkelanjutan: Refleksi atas the 2nd ICFAR Universitas Dhyana Pura

Universitas Dhyana Pura sukses membuktikan daya saingnya di kancah nasional dengan menempati Klaster Utama berdasarkan penilaian SINTA, didukung capaian impresif 40.098 SINTA Score 3 Tahun terakhir dan 77.645 SINTA Score Overall. Kinerja publikasi terlihat solid, di mana produk ilmiah Undhira telah didokumentasikan pada 188 dokumen Scopus, 6.249 di Google Scholar, dan 2.411 pada Garuda, dengan perolehan sitasi masing-masing 1.118 (Scopus), 23.857 (Google Scholar), serta 6 (Garuda). Tingkat pengaruh karya civitas akademika tercermin pada jumlah dokumen terkutip 134 di Scopus, 2.616 di Google Scholar, dan 6 pada Garuda sementara rerata sitasi per peneliti berdasarkan pembagian dosen PDDikti tercatat 6,90 (Scopus), 147,27 (Google Scholar), dan 0,04 (Garuda). Data ini menegaskan citra Undhira sebagai institusi yang bukan hanya produktif dalam publikasi, melainkan juga berpengaruh dalam ekosistem riset nasional dan internasional.
 
Pada tanggal 30 Oktober 2025, Universitas Dhyana Pura (Undhira) kembali menorehkan sejarah dalam pengembangan riset dan kolaborasi internasional melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Fundamental and Applied Research (ICFAR) 2025 di kampus Undhira, Badung, Bali. Konferensi tahun ini tidak hanya menjadi ajang ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bertemunya gagasan dan inovasi lintas disiplin demi masa depan yang berkelanjutan. Tema yang diusung, “Transforming Interdisciplinary Research for Sustainable Development: Challenges and Opportunities,” telah relevan dengan kebutuhan zaman, merefleksikan urgensi kolaborasi lintas bidang untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan krisis ekonomi.
 
Transformasi Riset untuk Masa Depan
Keberhasilan konferensi ini menegaskan komitmen Undhira dalam memajukan riset yang berdampak nyata pada masyarakat. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. I Made Wisnu Adhi Putra, M.Sc., konferensi ini diikuti oleh 134 peserta dari berbagai universitas baik dalam maupun luar negeri, termasuk University of Miyazaki (Jepang) dan University of Greater Manchester (Inggris). Angka ini menunjukkan antusiasme dunia akademik terhadap riset interdisipliner yang berorientasi pada solusi konkret bagi tantangan keberlanjutan. Apresiasi tinggi layak diberikan kepada seluruh panitia, sponsor, dosen, dan mahasiswa yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara ini. Kolaborasi erat mereka merupakan pilar utama terciptanya ekosistem riset yang progresif dan inklusif.
 
Forum Ilmiah: Titik Temu Sains dan Humaniora
Konferensi ICFAR tahun ini dibuka secara resmi oleh Rektor Undhira, Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., M.MA., M.A., yang menekankan pentingnya sinergi berbagai disiplin ilmu dalam mengatasi tantangan global. “Tantangan dunia seperti perubahan iklim dan kesenjangan sosial tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja. Melalui forum ini, kita membangun jembatan antara sains, teknologi, humaniora, dan ilmu sosial agar mampu menghasilkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan,” ujar Prof. Rai Utama. Pernyataan ini menjadi refleksi akan peran universitas sebagai katalis pembangunan yang berpijak pada Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih jauh, Undhira secara konsisten mengadakan dua seminar nasional dan satu seminar internasional setiap tahunnya. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan strategi mempertahankan relevansi kampus dalam dinamika dunia pendidikan tinggi Indonesia dan global. Forum seperti ICFAR memberi ruang bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk mendiseminasikan hasil riset dan pengabdian mereka secara terbuka, memperkuat jejaring ilmiah dan menginisiasi kemitraan baru.
 
Inspirasi dari Keynote Speakers Internasional
Tiga keynote speakers internasional turut membagikan perspektif dan hasil riset mutakhir. Prof. Tamaki Okabayashi, Ph.D. (University of Miyazaki, Jepang) membahas Center for Animal Disease Control (CADIC): One Health Platform for Zoonotic Disease Response, yang menjadi contoh nyata manfaat kolaborasi lintas disiplin dalam penanggulangan wabah zoonosis. Pendekatan “One Health” menegaskan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait, dan solusi efektif hanya bisa dicapai melalui integrasi berbagai bidang ilmu. Assoc. Prof. Ts. Dr. Alla Kesava Rao (University of Greater Manchester, Inggris) mengangkat topik From Qubits to Sustainability: How Quantum Computing Will Redefine Green Technology. Presentasinya menguraikan bagaimana teknologi komputasi kuantum berpotensi menekan konsumsi energi serta emisi karbon digital melalui efisiensi proses data, membuka peluang baru bagi riset teknologi hijau. Kolaborasi antara ahli teknologi informasi, fisika, dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk memastikan kemajuan teknologi berjalan seiring dengan keberlanjutan. Dr. nat.techn. Ida Bagus Agung Yogeswara, S.TP., M.Sc. (Undhira) mengangkat warisan fermentasi Bali sebagai perpaduan antara budaya, gizi, dan mikrobiologi. Ia menekankan pentingnya riset kolaboratif untuk menjaga tradisi serta mengembangkan produk fermentasi sebagai pangan fungsional bernilai ekonomi tinggi. Dalam era globalisasi, inovasi berbasis kearifan lokal harus didukung oleh penelitian lintas disiplin demi menciptakan produk yang kompetitif sekaligus ramah lingkungan.
 
Sesi Paralel: Menjawab Tantangan Nyata
Selain sesi pleno utama, ICFAR 2025 menghadirkan berbagai sesi paralel dengan topik seperti ketahanan iklim, ekonomi sirkular, pendidikan, kesehatan, serta teknologi digital berbasis keberlanjutan. Forum ini mempertegas peran riset interdisipliner sebagai katalis pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Setiap peserta konferensi baik presenter maupun non-presenter memiliki kesempatan untuk berdialog, bertukar ide, dan membangun kemitraan transformatif yang berdampak langsung pada masyarakat lokal maupun global. Seminar ini juga mendorong transformasi wawasan teoritis menuju solusi praktis yang dapat diterapkan dalam keseharian komunitas. Dengan demikian, akademisi tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ambil bagian aktif dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inisiatif seperti ini sangat dibutuhkan untuk menghadirkan perubahan nyata di era kompleksitas global saat ini.
 
Memberdayakan Akademisi dan Masyarakat
Keunggulan akademik dan kontribusi sosial menjadi nilai dasar dalam setiap penyelenggaraan forum di Universitas Dhyana Pura. Semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi terus dihidupkan melalui penyelenggaraan seminar yang tidak hanya bertujuan mendiseminasikan hasil riset, tetapi juga memperkuat jiwa kolaborasi serta kepedulian sosial di kalangan insan akademik. Harapannya, seminari internasional seperti ICFAR dapat menginspirasi terbentuknya kolaborasi-kolaborasi baru yang memberi dampak nyata demi masa depan dunia yang lebih baik dan berkelanjutan.
 
Menuju Dunia Akademik yang Lebih Terbuka
Pesan terakhir kepada seluruh pembicara, presenter, dan peserta konferensi: semoga interaksi hari ini memperkaya perjalanan profesional dan gagasan inovatif. Mari kita jadikan seminar internasional ini sebagai momentum untuk terus belajar, berkolaborasi, dan bertransformasi demi perbaikan dunia. Universitas Dhyana Pura dengan tulus menyambut semua dalam forum akademik yang inklusif dan progresif. Melalui sinergi lintas disiplin, kolaborasi internasional, dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, kita akan terus bergerak bersama menuju masa depan penuh harapan. Selamat dan sukses kepada Universitas Dhyana Pura atas keberhasilan ICFAR 2025. Semoga semangat inovasi dan kolaborasi yang dibangun hari ini menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan tinggi lainnya untuk terus berkontribusi memecahkan tantangan global dengan solusi yang bermakna dan berkelanjutan (IGBRU)

Senin, 03 Nov 2025 | Oleh: admin sinode